BREAKING NEWS

PAK PADA PERUSAHAAN GARMEN

I. PENGENDALIAN DAN PENCEGAHAN PAK PADA PERUSAHAAN GARMEN 

Berbagai upaya dapat dilakukan untuk meminimalkan atau jika mungkin meniadakan efek yang merugikan dari suatu bahan kimia. Untuk mengetahui kemungkinan bahaya-bahaya di lingkungan kerja yang diperkirakan dapat menimbulkan efek kesehatan pada pekerja, ditempuh 4 langkah utama, yaitu : 

Ø Assesment 
Ø Recognition 
Ø Evaluasi 
Ø Pengendalian. 


1. Assesement 

Assesment adalah suatu aktifitas untuk memperkirakan potensial hazard terhadap pekerja yang timbul di tempat kerja dengan suatu metode tertentu yang strategis.Dalam langkah antisipasi ini, dapat digunakan data-data sekunder dari perusahaan, atau dengan study literatur. 

Pendataan termasuk penyakit yang sering timbul pada perusahaan dan semua jenis bahan-bahan berbahaya yang terdapat dalam perusahaan tersebut serta penatalaksanaan jika terjadi penyakit akibat kerja tersebut. 

2. Recognition 

Recognisi adalah aktifitas untuk mengindentifikasi dan mengukur berbagai potensial hazard yang ada di lingkungan kerja untuk memberikan masukan yang logis dengan metode yang sistematis sehingga cocok untuk tindak lanjut. 

Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam recognisi, yang paling populer adalah "Walk Trough Survey". Untuk survey ini sebaiknya dilakukan oleh seseorang yang telah berpengalaman, karena bahaya atau resiko yang terlewatkan untuk dikenali akan terlewatkan dalam evaluasi dan pengendalian. 

3. Evaluasi 
Evaluasi lingkungan kerja, dilakukan untuk menguatkan apa yang ditemukan pada recognisi, menetapkan karakteristiknya dan memberi gambaran cakupan dan luas pemaparan. Ini diperlukan sebagai dasar untuk penetapan desain dan langkah pengendaliannya. Setelah didapatkan gambaran lengkap dan menyeluruh dari pemaparan, kemudian dibandingkan dengan standard kesehatan kerja yang berlaku, misalnya nilai ambang batas. Pada evaluasi ini juga harus dikemukakan kondisi-kondisi pemaparan yang meliputi lama pemaparan, jenis dan aktivitas fisik pekerja yang terganggu. 

4. Pengendalian 
Pengendalian adalahupaya untuk mengurangi atau meniadakan pemaparan bahan berbahaya di lingkungan kerja. Untuk melakukan pengendalian, dapat dipilih teknologi yang paling tepat dan mungkin dilaksanakan, atau teknologi yang mudah, murah, dan bermanfaat. 

Pemilihan teknologi, sebaiknya mempertimbangkan beberapa hal, antara lain: 

Ø Jenis bahaya yang potensial dan sumber serta lokasinya. 

Ø Apakah sumber bahaya bisa dihilangkan secara menyeluruh 

Ø Apakah mungkin dilakukan substansi bahan, alat, atau cara kerja. 

Ø Apakah kontak dengan hazard dapat dikurangi. 

Secara hierarki, pengendalian hazard yang diutamakan adalah pengendalian pada sumbernya, lalu lingkungan kerjanya, terakhir adalah langsung pada pekerjanya. 

Ada dua sistem dalam prinsip aliran udara ini yaitu : supply sistem dan exhaust sistem. Exhaust sistem prinsipnya adalah untuk memindahkan udara kontaminan dari ruang kerja, sedangkan supplay sistem adalah menambahkan udara ke dalam ruang kerja. Selain itu fungsi lain dari sistem supplay adalah untuk menggerakkan udara ke arah yang diinginkan, juga digunakan untuk mengganti udara yang telah dipindahkan oleh exhaust sistem. Sehingga apabila ada exhaust sistem dengan sendirinya harus ada supplay sistem. 

Selain itu perlu upaya pencegahan dengan penerapan konsep tingkatan dalam pencegahan penyakit Akibat kerja. Penerapan konsep 5 tingkatan pencegahan penyakit (five level of prevention deseases) pada Penyakit Akibat Kerja adalah (Silalahi, Benet dan Silalahi, Rumondang, 1985) : 

a. Health Promotion (peningkatan kesehatan) 

Misalnya : pendidikan kesehatan, meningkatkan gizi yang baik, pengembangan kepribadian, perusahaan yang sehat dan memadai, rekreasi, lingkungan kerja yang memadai, penyuluhan perkawinan dan pendidikan seks, konsultasi tentang keturunan dan pemeriksaan kesehatan periodik. 

b. Specific Protection ( perlindungan khusus) 

Misalnya : imunisasi, higiene perorangan, sanitasi lingkungan, proteksi terhadap bahaya dan kecelakaan kerja. 

c. Early diagnosis and prompt treatment (diagnosa dini dan pengobatan tepat) 

Misalnya : diagnosis dini setiap keluhan dan pengobatan segera, pembatasan titik-titik lemah untuk mencegah terjadinya komplikasi. 

d. Disability limitation (membatasi kemungkinan cacat) 

Misalnya : memeriksa dan mengobati tenaga kerja secara komprehensif, mengobati tenaga kerja secara sempurna, pendidikan kesehatan. 

e. Rehabilitasi (pemulihan kesehatan) 

Misalnya : rehabilitasi dan mempekerjakan kembali para pekerja yang menderita cacat. Sedapat mungkin perusahaan mencoba menempatkan karyawan-karyawan cacat di jabatan-jabatan yang sesuai. 

Upaya-upaya untuk mencegah terjadinya Penyakit akibat kerja salah satunya dengan pendekatan ergonomis, dengan 

1. Komunikasi 

2. Melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan 

3. Pendidikan dan pelatihan bagi pekerja dan manajemen tentang strategi pencegahan dan peningkatan lingkungan kerja yang ergonomic. 

Lebih lanjut Jenifer Gunning dkk mengungkapkan 5 prinsip dasar dalam bekerja secara ergonomis guna mengurangi ganguan otot yaitu 

1. Gunakan alat yang baik dan sesuai dengan pekerjaan dan pekerja 
2. Meminimkan pengulangan gerakan pada satu jenis otot 
3. Hindari posisi tubuh yang tidak baik 
4. Gunakan teknik angkat-angkut yang benar 
5. Beristirahat secara baik dan benar 

Sedangkan David Mahone menyatakan untuk meningkatkan kondisi kerja yang ergonomi dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut: 

1. Melaksankan program ergonomi yang komprehensif 
2. Melakukan redesign stasiun kerja seperti yang direkomendasikan NIOSH 
3. Peningkatan cara Sistem Kerja 
4. Menggunakan peralatan material handling yang otomatis 
5. Pengembangan Konsep Modular Manufacturing 

Untuk memperbaikai kondisi kerja industri garmen di India Parimalam dkk (2006) merekomendasikan Meja kerja disarankan dari kayu untuk menghindari bahya elektrik. Beberapa ukuran meja kerja yang disarnkan adalah sperti pad atabel 2 berikut ini 

Sedangkan untuk meja jahit direkomendasikan tinggi duduk sekitar 41,5 cm untuk wanita dan untuk pria 43 cm dan posisi betis 105º dari paha ketika menginjak pedal. Dan kursi kerja diberi pelapis (busa untuk) memberi kenyamanan pada pekerja. Meja dan kursi juga harus dapat diatur ketinggiannya dan sudut sandarannya untuk mengurangi sakit pada bahu dan leher (ww.physorg.com). 

Untuk pencahayaan Parimalam dkk (2006) merekomendasikan minimum sebesar 400lux untuk general lighting dan untuk operator jahit di tambahkan pencahayaan lokal. Sedangkan menurut Industrial Accident Prevention Assosiation (IAPA,2006) untuk pekerjaan menjahit pencahayaan disarankan sekitar 2000-5000 lux. 

Untuk mengurangi kebisingan perlu dilakukan pemeliharaan, pelumasan dan penggantian spare part secara rutin. Pekerja yang terpapar bising perlu diberikan pelindung telinga ataupun perlu rotasi setiap 4 jam untuk level kebisingan 90 DB. 

Untuk mengurangi getaran diperlukan isolator getaran misalnya dengan memasang karpet/karet pada kaki-kaki mesin. Diperlukan pemasangan mesin penghisap untuk menghisdap debu kain dan pekerja diberikan masker untuk melindungi dari debu. Jarak antar mesin 4-5 feet untuk meminimalkan paparan panas pada operator jahit. Di setiap unit perlu disediakan kotak P3K dan orang yang mampu memberikan perawatan/pertologan darurat. 

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Pendidika Jasmani, Olahraga, Rekreasi. Designed by OddThemes