1. Definisi
Carpal Tunnel Syndrome adalah suatu keadaan medis dimana terjadi kompresi nervus medianus pada pergelangan tangan baik oleh karena penyakit lokal maupun sistemik.
2. Epidemiologi
CTS sering di temukan pada wanita di bandingkan pria dimana pada wanita sering terjadi pada usia 40-60 tahun. Insiden CTS secara umum lebih dari 10% dari populasi dewasa dan berdasarkan hasil penelitian di Amerika pada tahun 2003 ditemukan CTS sebanyak 3% dari populasi dewasa.
3. Anatomi
Nervus medianus berjalan melalui carpal tunnel yaitu suatu terowongan pada pergelangan tangan yang di kelilingi oleh tulang dari tiga sisi dan jaringan fibrous (retinakulum fleksor) dan lainnya. Selain itu banyak tendon muskulus pada tangan berada pada terowongan ini. Nervus medianus dapat tertekan jika terjadi edema pada isi canal. Pada kasus tertentu seperti edema pada jaringan lunak di sekeliling tunnel atau tekanan langsung dari bagian yang hancur atau dislokasi tulang.
4. Etiologi
CTS dapat disebabkan dan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain :
· Kelainan anatomi antara lain : kelainan tekanan muskulus fleksor, kista ganglionik, lipoma, congenitally small carpal canal, trobosis arteri, proximallumbrical muscle insertion.
· Infeksi antara lain : lyme disease, infeksi mikrobakterial dan septik artritis.
· Kelainan metabolik antara lain : akromegali, amiloidosis, diabetis, hypertiroidisme atau hipotroidisme.
· Peningkatan volume canal antara lain : gagal jantung kongestif, edema, obesitas, kehamilan.
· Inflamasi antara lain : penyakit jaringan penyangga, gout atau pseudogout, tenosinovitis fleksor non spesifik, rheumatoid artritis, osteoartritis.
· Trauma antara lain : fraktur tulang pergelangan tangan (yang sering colle’s fraktur), dislokasi salah satu tulang karpal, tekanan yang kuat misalnya melindungi diri dari benda berat dengan menggunakan pergelangan tangan, hematom akibat pendarahan interna pada pergelangan tangan, deformitas akibat penyembuhan fraktur lama yang tidak sempurna.
· Kebiasaan /aktivitas antara lain : menjahit, mengetik komputer, main video atau alat musik, mengendarai mobil/motor atau aktivitas yang terus-menerus dan rutin seperti ahli bedah dan dokter gigi.
Semua penyebab diatas sering menyebabkan penyempitan carpal tunnel sehingga terjadi penekanan pada struktur jaringan yang berada didalamnya termasuk nervus medianus akibatnya terjadi gangguan neurologis pada distribusi nervus medianus yang melewati carpal tunnel.
5. Proses patologi
CTS dapat terjadi oleh faktor mekanik dan faktor vaskuler. Sebagian besar CTS terjadi secara perlahan-lahan (kronis), dimana terjadinya penebalan fleksor retinaculum oleh karena artritis rematoid sehingga menekan saraf medianus yang akan meyebabkan tekanan infrasikulermeninggi. Keadaan ini menyebabkan perlambatan aliran vena infrafasikuler dan terjadi gangguan nutrisi infrafasikuler. Kemudian terjadi anoksia yang akan merusak endotildan menimbulkan kebocoran protein sehingga terjadi edemaepineural,keluhan yang sering dirasakan berupa nyeri dan bengkak terutama pada malam hari yang akan menghilang atau berkurang setelah tangan digerakan atau diurut.
Pada kondisi yang akut akan terjadi penekanan yang melebihi tekanan perfusi kapiler, sehingga terjadi gangguan mikrosirkulasi saraf dan saraf menjadi iskemik. Peninggian pada tekanan fasikuler juga akan memperberat keadaan iskemik, selanjutnya terjadi pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan edema sehingga terjadi gangguan aliran darah pada saraf dan akan merusak saraf tersebut. Selain dari faktor mekanik dan vaskuler ada keadaan lain yang membuat saraf medianus menderita dalam terowongan karpal maka akan timbul nyeri yang mengganggu fungsi tangan, terutama fungsi menggenggam.
6. Diagnosa
Diagnosa CTS ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik dan penunjang.
a. Gejala klinis
CTS dapat menyebabkan kumpulan berbagai gejala klinis seperti nyeri, rasa tebal, mati rasa, rasa tertusuk, rasa terbakar, rasa bengkak, dingin dan kadang-kadang lemas dan kaku jika menggunakan jari terutama ujung ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah, biasanya bilateral dan berlangsung 6-12 bulan. Gejala bertambah hebat pada malam hari, pada saat bangun tidur, pada waktu mengangkat tangan atau setelah mengerjakan sesuatu seperti mengetik atau menjahit.
Gejala klasik yang sering ditemukan adalah nyeri dan parestesia/hipestesia pada bagian yang dipersarafi oleh nervus medianus meskipun sering ditemukan rasa tebal pada seluruh jari. Rasa nyeri yang sangat pada malam hari sering membangunkan penderita dari tidur dan untuk mengurangi gejala ini biasanya penderita secara cepat menggoyangkan tangannya seperti menggoyang termometer. Pada penderita CTS rasa nyeri dan parestesia/hipestesia dapat menyebar kelengan, siku dan bahu. Pada keadaan yang lebih berat dapat ditemukan penurunan kekuatan menggenggam, kemampuan ketangkasan dan terjadi atrofi muskulus tenar. Jika satu tangan mengalami gejala yang berat hal ini dapat mempengaruhi kedua tangan.
b. Pemeriksaan fisik
Gambaran fisik adalah pengurangan sensitivitas dan keringat diatas ibu jari tangan, jari telunjuk, jari tengah dan setengah radialis jari manis, atropi tenar, kelemahan abduksi dan aposisi ibu jari tangan.
Sensitivitas normal ada ditelapak tangan proksimal yang dipersarafi oleh ramus kutaneus palmaris nervi medianus berjalan superfisial terhadap retinaculum fleksorum manus (Urbaniak dan James, 1994). Tes sensorik pada CTS dapat juga dilakukan dengan pemeriksaan two point discrimination, vibrasi dan monofilamen testing.
Tes klinik yang penting dalam CTS adalah Phalen dan tanda Tinel. Phalen positif jika penderita diminta untuk mengangkat lengan bawah secara vertikal dan melakukan fleksi pada pergelangan tangan secara maksimal dan jari-jari ektensi selama 1 menit timbul rasa tebal dan kesemutan pada daerah distribusi nervus medianus. Tanda tunnel posistif jika perkusi positif diatas nervus medianus pada pergelangan tangan. Caranya mengetuk dengan menggunakan hammer reflek pada nervus medianus dengan posisi pergelangan tangan sedikit dorsi fleksi, maka timbul rasa tebal pada daerah distribusi nervus medianus.
7. Pengobatan
a. Konservatif yaitu: dengan obat-obatan oral, terapi latihan, pemakaian splint pergelangan tangan, terapi ultrasound
b. Operatif
8. Prognosa
Prognosa penderita CTS secara konservatif 80% baik jika dapat menghilangkan faktor penyebab atau mempengaruhi. Namun hal ini dapat berulang 1 tahun kemudian.
Prognosis penderita CTS ditentukan oleh berbagai faktor antara lain :
a. Gejala yang terjadi lebih dari 10 bulan
b. Adanya parestesis yang bersifat konstan atau terus menerus
c. Adanya flexor tenosinvitis atau triggering of the digit
d. Manuver phalen positif
e. Usia lebih dari 50 tahun
Penilaian prognosa:
a Jika tidak ada faktor 65% baik dengan terapi konservatif
b Jika 1 faktor 41,4% baik dengan terapi konservatif
c Jika 2 faktor 16,7% baik dengan terapi konservatif
d Jika 3 faktor 6,8% baik dengan terapi konservatif
e Jika 4 atau 5 faktor 0% baik dengan terapi konservatif
Prognosis penderita CTS dengan terapi konservatif 90% baik khususnya dengan cara operasi endoskopi.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Posting Komentar