Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh laiinnya (Depkes RI, 2002).
Angka kesakitan penderita Tuberkulusis masih cukup tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2002, kematian karena penyakit ini di Indonesia mencapai 175.000 orang per tahun, atau 20 orang setiap jam. Jumlah penderita baru terus meningkat, diperkirakan 670 ribu setiap tahunnya.
Diperkirakan setiap hari 23.300 jatuh sakit TB, setiap jam 833 orang sakit TB, setiap menit 13 orang jatuh sakit karena TB, setiap 5 detik satu orang jatuh sakit karena TB, dan setiap detik satu orang terinfeksi TB.
Indoesia salah satu Negara berkembang yang sangat rentan terhadap TB. Indonesia masuk urutan ketiga dari 23 negara dimana penduduknya terinfeksi TB setelah India dan Cina. TB penyakit menular yang cukup membahayakan WHO beserta Negara setempat menyediaakan dana untuk memberantas dan menyembuhkan penderita TB. Saat ini penduduk Indonesia mencapai 222 juta orang, dari jumlah tersebut diperkirakan 5 persen terinfeksi kuman TB.
Yayasan Pembangunan Indonesia Sehat (YPIS) memperkirakan jumlah penderita TBC di negara ini mencapai 6,7 juta orang. Di dunia, penyakit ini juga jadi masalah besar. WHO memperkirakan, sepertiga penduduk dunia terinfeksi TBC. Angka kematiannya juga masih sangat tinggi dibandingkan AIDS dan malaria. Diperkirakan, terdapat 8.000 kematian tiap harinya di dunia akibat TBC, atau 2 sampai 3 juta setiap tahunnya.
Di masa depan, diperkirakan terdapat 10 juta kasus baru TBC setiap tahun di dunia. Sekitar 90 persennya disumbangkan dari negara berkembang termasuk Indonesia. Negara ini penyumbang ketiga terbesar penderita TBC di dunia setelah India dan Cina
_________________________
Samino, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati
TB merupakan penyakit rakyat (Tjiptoherijanto, 1994). Secara ekonomis penyebab berkembangnya kuman Tubercolusis disebabkan karena masih rendahnya pendapatan per kepala. Kurangnya nutrisi dan gisi serta hal-hal lain yang menyangkut buruknya kesehatan seperti : keadaan perumahan yang kurang sesuai dengan kaedah kesehatan, keadaan sanitasi yang masih kurang sempurna. Akhibat yang ditimbulkan oleh penyakit ini sangat merugikan ekonomi penderitanya.
Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi dalam kategori miskin dengan jumlah penduduk sekita tujuh juta, diperkirakan terdapat 11.174 terinfeksi kuman TB. Jumlah tersebut sangat tinggi, sehingga kerugian kesempatan penderita TB untuk memperoleh penghasilah cukup besar, karena penderita TB 75% pada usia produktif. Penyeleamatan penduduk dari TB berarti menyelamatkan produktivitas yang hilang (Tjiptoherijanto, 1994)..
1. Pengertian
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (Microbacterium tuberculosis) Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi juga dapat mengenai organ tubuh lainnya (Depkes, 2002). Kuman TBC berbentuk batang, mempunyai sifat khusus, tahan terhadap asam pada pewarnaan. Dengan demikian kuman tersebut disebut sebagai basil tahan asam (BTA). Kuman TBC cepat mati jika terkena sinar matahari secara langsung, tetapi dapat hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.
2. Gejala Tbc
Ada dua gejala yang dapat dirasakan oleh penderita :
- Gejala utama :
Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih.
- Gejala tambahan, yang sering dijumpai :
· Dahak bercampur darah,
· Batuk berdarah.
· Sesak nafas dan rasa nyeri dada.
· Badan lemah dan nafsu badan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.
3. Cara Penularan
Sumber penularannya adalah melalui penderita TBC BTA positif. Hal ini bisa terjadi pada saat penderita batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang atau keluarga dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan. Setelah kuman TBC masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman TBC tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya,melalui system peredaran darah, system saluran limpe, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.
4. Resiko Penularan
Resiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI)) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-3%. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1%, berarti setiap tahun diantara 1.000 penduduk, 10 orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TBC, hanya sekitar 10% dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TBC.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diperkirakan bahwa pada daerah dengan ARTI 1% maka diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 100 penderita TBC setiap tahun, dimana 50 penderita adalah BTA positif.
Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita TBC adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya adalah gizi buruk, HIV/AID (Depkes, 2002).
5. Riwayat Terjadinya Tuberkulosis
a. Infeksi Primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TBC. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat meliwati system pertahanan mukosiler bronkus, dan terus berjalan sehingga sampai di alveolus dan menetap di sana. Infeksi dimulai pada saat kuman TBC berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru. Saluran limfe akan membawa kuman TBC ke kelenjar limfe di sekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu diantara terjadinya infeksi sampai pembentukan komplek primer adalah sekitar 4-6 minggu. (Depkes, 2002).
Perkembangan setelah terjadinya infeksi sangat tergantung dari banyaknya kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Sebagian reaksi daya tahan tubuh dapat menghentikan perkembangan kuman TBC. Akan tetapi ada beberapa kuman yang akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu menhentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan ia akan menjadi penderita TBC. Masa inkubasi mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan memakan waktu sekitar 6 bulan.
b. Post Primary TBC
Biasanya terjadi setelah beberaa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akhibat infeksi HIV atau status gisi yang buruk. Ciri khas dari post primary TBC adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya atau efusi pleura.
6. Komplikasi Pada Penderita Tbc
Komplikasi yang sering terjadi pada penderita stadium lanjut adalah :
1. Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas.
2. Kolaps dari lobus akhibat retraksi bronchial.
3. Bronkiektasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
4. Pneumotorak (adanya udara di dalam rongga pleura) spontan, kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru.
5. Penyebaran infeksi ke organ lain, seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya.
6. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insuficiency).
Penderita TBC yag mengalami komplikasi berat perlu dirawat (rawat inap) di rumah sakit. Jika penderita dengan kerusakan jaringan yang luas dan sudah dinyatakan sembuh (BTA Negatif), tetapi masih batuk-batuk dan disertai darah, maka tidak perlu diberi OAT lagi, tetapi cukup diberikan pengobatan simtomatis. Bila perdarahan berat, penderita harus dirujuk ke unit spesialistik.
7. Perjalanan Alamiah Tbc Yang Tidak Diobati
Penderita yang tidak diobati (tidak mendapatkan pengobatan), dalam lima tahun kemudian, diperkirakan 50% dari penderita akan meninggal, dan 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi, dan 25% sebagai kasus kronik yang tetap menular (WHO, 1996).
8. Penemuan Penderita Tbc
Penemuan TBC pada orang dewasa. Penemuan dilakukan secara pasif, yaitu penjaringan tersangka penderita dilakukan terhadap mereka yang datang ke unit pelayanan kesehatan (Puskesmas, Praktik dokter, dan lain-lain). Namun demikian setelah mereka datang ke pelayanan kesehatan, selanjutnya dilakukan promosi secara aktif. Promosi dilakukan oleh tenaga kesehatan atau masyarakat, untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka. Cara ini dikenal dengan sebutan passive promotive case finding (penemuan pederita secara pasif dengan promosi secara aktif).
Semua tersangka harus diperiksa tiga specimen dahak dalam waktu dua hari berturut-turut, yaitu swaktu-pagi-sewaktu (SPS).
Penemuan TBC pada anak. Penemuan ini merupakan hal yang sangat sulit. Sebagian besar diagnosis TBC anak berdasarkan atas gambaran klinis, radiologist, dan uji tuberkulin.
9. Diagnosis Tbc
Diagnosis TBC pada orang dewasa.
Ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga specimen SPS BTA hasilnya positif. Bila hanya satu yang positif, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, dengan foto roentgen dada atau pemeriksaan dahak SPS diulang :
· Kalau hasil rontgen mendudkung TBC, maka penderita didiagnosis sebagai penderita TBC BTA positif.
· Kalau hasil rontgen tidak mendukung TBC, maka pemeriksaan dahak SPS diulangi (Untuk lebih jelasnya perhatiikan Bagan 1)
10. Masyarakat Beresiko Tbc
Kemiskinan memicu timbulnya TBC. Kelompok nelayan, petani, buruh bangunan, tukang becak (kelompok ekonomi lemah) sangat rentan terkena TBC (Seminar TBC, 2006, Tjiptoherjanto, 1994).
11. Strategi Pengobatan
Sejak 1995, program pemberantasan TB telah dilaksanakan dengan Strategi Directly Observed Treatment Short-Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO. Kemudian berkembang seiring dengan pembentukan GERDUNAS-TBC, maka pemberantasan penyakit TB berubah menjadi Program Penanggulangan Tuberkulosis (Hazma, 2005).
Tujuan jangka panjang program ini adalah menurunkan angka kesakitan dan angka kematian penyakit TB dengan cara memutuskan rantai penularan, sehingga penyakit TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Sedangkan jangka pendek tercapainya angka kesembuhan minimal 85% dari semua penderita baru BTA Positif yang ditemukan, dan tercapainya cakupan penemuan penderita secara bertahap, sehingga pencapaian target tersebut dapat tercapai. Tingkat keberhasilannya secara nasional mencapai 87% dari yang terobati. Sedangkan tingkat keberhasilan Provinsi Lampung 2006 mencapai 40.7%.
12. Ekonomics Lost Tbc
Tujuh puluk lima persen (75%) penderita TB adalah usia produktif. Pemberantasan TB ini sangat sangat perlu dilakukan, selain akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, telebih akan menyelamatkan produktivitas yang hilang (Tjiptoherijanto, 1994).
Penderita TB yang dilakukan pengobatan akan sembuh dalam waktu selama 6 (enam) bulan, akan tetapi jika efektif dapat sebuh dalam waktu 3 (tiga) bulan. Pada kesempatan ini penulis mengambil rata-rata waktu sembuh selama 5 (lima) bulan (sudah produktif kembali), maka penderita TB akan kehilangan produktivitas selama pengobatan tersebut (5 bulan). Kehilangan kesempatan akan lebih besar jika penderita tidak terobati atau gagal dalam pengobatan (meninggal). Jika usia produktif antara 20 – 45 (Tjiptoherijanto (1994), Elvi (2006), maka akan kehilangan produktivitas selama (+ 25 tahun).
Selain kehilangan kesempatan diatas, penderita TB juga akan kehilangan biaya untuk berobat (jika ke klinik swasta, kecuali Puskesas), transfortasi ke pelayanan kesehatan, pemeriksaan dahak, menurunnya produktifitas anggota keluarga yang lain (jika memerlukan bantuan orang lain), dan berbagai efek lain yang terkait menurunnya kinerja penderita.
Pada kesempatan ini penulis mebatasi diri hanya akan menghitung kehilangan kesempatan selama pengobatan, jika meninggal, dan biaya pengobatan yang keluarkan Pemerintah (Rp. 600.000, / 650.000, per orang (all in) selama pengobatan, dalam sekala Provinsi Lampung.
Posting Komentar