Anak cacat atau anak luar biasa dalam pendidikan dapat diartikan sebagai anak yang memiliki ciri-ciri penyimpangan mental, fisik, emosi, atau tingkah laku yang membutuhkan modifikasi dan pelayanan khusus agar semua potensi yang dimilikinya dapat berkembang dengan baik dan maksimal.
Adapun klasifikasi beberapa kategori cacat yang biasa ditemulan. Yaitu antara lain:
ü Tuna Grahita
ü Tuna Wicara
ü Tuna Netra
ü Tuna Daksa
ü Tuna Rungu
ü Gagap / Latah
ü Epilepsi, dll
Adapun beberapa factor penunjang terjadinya kecacatan dalam tubuh seseorang, yaitu:
Ø Faktor Internal
Anak menderita cacat dari dalam kandungan, disebabkan oleh infeksi virus, gangguan emosi, pengaruh rokok, salah obat, atau minum-minuman keras pada saat mengandung.
Ø Faktor Eksternal
Anak lahir prematur, kesalahan teknis yang dilakukan oleh medis pada saat melahirkan, faktor psikilogis dan lingkungan.
PEMBAHASAN
Gagap adalah suatu gangguan bicara, seseorang akan memperpanjang atau mengulang kata, suku kata atau frase, mata berkedip dengan cepat, bibir gematar, muka seperti mengencang saat berbicara dan rahang gemetar. Anak yang mengalami kegagapan dalam berbicara, ternyata lebih sering mendapat gertakan dibandingkan anak yang tidak gagap. Semakin parah kegagapan mereka akan semakin sering pula gertakan yang diterima.
Sebagai contoh: “Bbbbebebe.......bebe.....” Ari yang berusia sembilan tahun itu tak segera dapat meluncurkan kata “betul” dari mulutnya, saat harus menjawab pertanyaan dari gurunya. Yang terdengar kemudian justru teriakan teman-teman di kelasnya dengan bersama-sama melontarkan satu kata, “Dor!” Ari tertunduk malu, ia tampak tidak berdaya menghadapi gertakan keras yang memotong kata yang hendak diucapkannya. Lebih-lebih ejekan dan suara tawa berseliweran dari teman-teman sekelasnya. Sayangnya guru di kelas tidak cukup tegas memberikan perlindungan bagi murid yang mengalami gangguan wicara akibat gagap itu. Senyum tipis bahkan tersungging di bibir sang guru, meskipun setelah itu terucap peringatan tanggung, “Ssssttt.... anak-anak tidak boleh begitu. Beri kesempatan Ari untuk menjawab.”
Dengan situasi seperti itu, yang terjadi hampir setiap saat, Ari akhirnya lebih suka menarik diri dari pergaulan. Ia tumbuh sebagai anak yang pemalu, pendiam, dan lebih suka menghabiskan waktunya untuk belajar, sehingga nilai-nilai rapornya selalu bagus. Ari tumbuh sebagai anak laki-laki yang tampan dan cerdas, dengan bakat melukis yang bagus, tetapi gagap saat berbicara.
Gagap dapat ditandai dengan ciri-ciri suara mulut yang berulang (terjadi repetisi), jaraknya panjang antara satu kata dengan kata berikutnya, atau mengalami blokade ketika akan mengucapkan sebuah kata. "Penyebab gagap ini tidak tunggal, melainkan merupakan kombinasi yang kompleks antara faktor biologis dan kesalahan dalam proses belajar wicara," ujar William Murphy, peneliti di Department of Speech, Language and Hearing Science, Purdue University, AS. Seorang anak dapat dideteksi mengalami kegagapan jika selama enam bulan atau setahun ia menunjukkan gejalanya terus-menerus. Biasanya dalam keluarga juga terdapat riwayat orang yang sudah lebih dulu mengalami kegagapan. Dalam hal ini biasanya lebih banyak terjadi pada anak laki-laki.
Di Indonesia, kita tidak pernah tahu berapa jumlah orang yang mengalami gagap. Namun, di Negara Paman Sam diperkirakan sekitar 5 persen anak pra sekolah dan 1 persen orang dewasa mengalami gagap.
Tingkat kekacauan saat berbicara ini sangat berbeda-beda pada setiap orang yang mengalami kegagapan. Ada yang tingkat kegagapannya tidak terlalu parah, tetapi hal itu sudah bisa menyebabkan penderitanya menarik diri dari pergaulan dan enggan berpartisipasi dalam percakapan karena merasa minder atau rendah diri.
Penelitian baru para ilmuwan Australia telah mendapatkan beberapa kesimpulan baru diantaranya ialah sebuah bukti yang menunjukkan bahwa anak-anak yang gagap paling baik ditangani sebelum mereka mulai sekolah.Sampai saat ini memang belum ditemukan obat khusus yang secara fisik mampu menyembuhkan gagap. Untuk sementara waktu ini gagap memang dianggap sebagai kecelaruan (penyimpangan) psikologis,sehingga memang tidak ada cara yang lebih efektif untuk menyembuhkannya dengan memberikan perlakuan sedini mungkin.Saat ini para peneliti University of Sydney sedang mengembangkan program, yang diyakini dapat membantu memperbaiki masalah ini. Lidcombe Program (nama program ini) lebih merupakan program perawatan perilaku gagap bagi anak-anak muda, yang dimanajemeni langsung oleh orang tua mereka, di bawah bimbingan seorang ahli terapi bicara. Orangtua mereka secara rutin diarahkan untuk senantiasa melakukan perawatan dan belajar untuk mengukur kegagapan anak pada skala 10-point. Mereka dibantu oleh beberapa ahli patologi untuk melihat setiap tahap kemajuannya.Menurut Eko Budhi Purwanto,Direktur Lembaga Pengkajian Ilmiah Grahita Indonesia: “Pada dasarnya,gagap berasal dari berbagai penyebab, termasuk genetika, perkembangan kesulitan dan masalah dengan sinyal antara otak dan saraf.” Sementara Mark Onslow ,Direktur Lidcombe Program menyebutkan: “Jika gangguan gagap dibiarkan berlanjut berlanjut sampai saat anak usia sekolah ada kemungkinan mereka menghadapi risiko gangguan gagap kronis sepanjang hidupnya”. (A02)
Gangguan bicara berupa gagap ditandai oleh pengulangan spasmodik atau terjadi pemblokan dalam suara pada saat berbicara. Kondisi gagap bervariasi dalam dimensi taraf yang ringan sampai berat. Biasanya anak atau orang yang mengalami gagap, kesulitan dalam mengucapkan kata-kata tertentu atau bahkan sama sekali tidak mampu mengucapkan suara huruf awal b, d, s, t dari kata-kata tertentu. Seperti kita tahu, huruf b, d, s, t adalah huruf yang membutuhkan tenaga pada saat mengucapkannya, dan justru kata-kata yang diawali dengan huruf itulah yang sering mengalami gangguan pengucapan pada penderita gagap.
Kegagapan sendiri dialami sekitar 1% dari populasi dunia, tetapi sekitar 4% orang diperkirakan pernah mengalami gagap di masa kecilnya. Meski begitu, belum diketahui obat yang bisa menyembuhkan gagap.
Stigma sosial yang kerap dialami penderita gagap. Rasa malu karena gangguan bicara itu kerap menimbulkan rasa rendah diri dan menyebabkan tekanan sehingga kontraproduktif dan menyebabkan serangan gagap makin berkembang.
Faktor – faktor yang mempengaruhi gangguan gagap, yaitu:
v Faktor Perkembangan
Anak kecil yang hingga usia 3,5 th masih terbata bata dalam bicara,ada kemungkinan bisa mengakibatkan gangguan gagap.
v Faktor Neurogenik
Gagap bisa terjadi ketika antara sinyal antara otak, saraf berbicara dan otot tidak bekerja dengan benar.
v Faktor Psikologi
Stres, malu, cemas, atau rendah diri.
Penanganan dan berkomunikasi dengan anak yang bicara gagap
Untuk melakukan pengobatan atau terapi pada gangguan bicara gagap, harus dinilai secara jelas gangguan tersebut. Hal ini memerlukan informasi yang jelas dan teliti tentang penderita dan mungkijuga riwayat keluarga, yaitu: :
• Adakah riwayat pada anggota keluarga baik saudara, ayah, ibu atau kakek yang mengalami gangguan yang sama.
• Contoh struktur bicara (e.g., a recording of the person describing a picture, reading a passage aloud, or describing a job or favorite activity)
•Contoh bicara berbeda setiap hari susuia situasi komunikasi.
• Melakukan pengamatan dengan strategi tertentu atau kondisi yang bagaimana yang dapat memperbaiki gangguan tersebut
• Dilakukan pengamatan tentang artikulasi, kemampuan bahasa ekspresif dan reseptif, kemampuan kognitif, suara, pendengaran dan penglihatan.
• Informasi dari praktisi kesehatan lainnya yang dapat berguna untuk merencanakan pengobatan.
Dalam berbagai kesempatan kita bisa menyaksikan bagaimana anak-anak yang sudah mengalami penderitaan akibat gagap dalam berbicara ini, harus semakin tersiksa oleh tingkah laku teman-temannya atau bahkan oleh orang dewasa lain yang tidak cukup bijaksana.
Anak-anak ini biasanya digertak sedemikian rupa ketika yang bersangkutan sedang mengalami kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Akibatnya, mereka menjadi semakin kecil hati, rendah diri, tidak nyaman, takut dan enggan untuk berbicara.
Menurut National Stuttering Association, AS, penelitian membuktikan bahwa anak-anak yang gagap berbicara justru lebih sering mengalami gertakan dibandingkan anak-anak lain. Dan semakin buruk kegagapan yang dialami seorang anak, semakin sering pula yang bersangkutan mendapat gertakan.
Dalam buku terbaru keluaran Purdue University berjudul Bullying and Teasing: Helping Children Who Stutter, di mana Murphy juga ikut menulis, dijelaskan bahwa bagi anak-anak yang gagap, gangguan dan gertakan dari teman-temannya justru membuat mereka lebih gelisah dan menderita dibanding gangguan wicara itu sendiri.Mungkin itu pula sebabnya meskipun anak-anak itu sudah mendapatkan terapi wicara dan telah mengalami kemajuan dalam keterampilan berbicara, persoalan tidak dengan sendirinya terlepas dari mereka.
Anak-anak itu tetap saja memiliki perasaan negatif tentang dirinya dan kegagapannya, ketika mereka tumbuh semakin besar. Keterampilan mereka berbicara yang boleh jadi sudah tidak memperlihatkan sisa-sisa kegagapan, masih tetap dibayangi oleh rasa malu dan minder, yang diperoleh dari gangguan dan gertakan-gertakan yang telah dialami.
Di sisi lain, orangtua tidak begitu yakin apa yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan jika anak mereka yang gagap mendapat gertakan dan gangguan dari teman-temannya. Sebagian orangtua menyarankan anak-anak supaya membalas gangguan yang diterimanya. Yang lain menganjurkan untuk mengabaikan saja gertakan yang didapat, dan menjauh dari teman-teman yang suka menggertak dan mengganggu.
Namun, menurut Murphy, anak-anak tidak bisa sungguh-sungguh mengabaikan gangguan dan gertakan yang sering diterimanya itu karena memang mereka merasa sangat terganggu.
Melakukan serangan balik terhadap anak-anak atau orang lain yang mengganggu juga tidak menyelesaikan masalah, bahkan mungkin mendatangkan lebih banyak masalah dengan anak-anak yang suka menggertak itu.
Mengatasi kegagapan tidak semudah yang orang sering ucapkan ketika menghadapi anak gagap: “Pokoknya tenang dan kalem saja kalau mau berbicara.” Saran ini mungkin cocok bagi anak-anak yang grogi, tetapi bukan itu yang diperlukan oleh anak yang gagap.
Yang pasti, gagap pada masa anak-anak dapat diatasi dengan terapi wicara.
Terapi yang dilakukan ketika masih kanak-kanak akan lebih mudah meraih keberhasilan dibanding saat yang bersangkutan sudah dewasa. Salah satu contoh orang yang pernah mengalami kegagapan di masa kanak-kanak adalah Winston Churchill.
Untuk mengatasi perasaan negatif serta rasa malu akibat kegagapan yang pernah dialami itu, alangkah baiknya jika anak-anak mendapatkan pendampingan dari psikolog, selama diperlukan. Para guru di sekolah sangat diharapkan kontribusinya agar anak-anak yang gagap tidak menjadi semakin terpuruk oleh ulah teman-temannya, akibat sering menerima ejekan dan gangguan dari mereka.
Posting Komentar